Pendidikan

Apa itu Digitalisasi Pendidikan dan Cara Memenuhi Kebutuhan Pembelajaran

Digitalisasi pendidikan menjadi topik hangat yang banyak dibahas oleh publik pada beberapa bulan terakhir. Bukan tanpa sebab karena terjadi perubahan pelayanan pendidikan yang bisa dibilang sangat drastis.

Tak bisa dipungkiri kalau pandemi Covid-19 telah memaksa siswa, guru, dan sekolah harus melakukan aktivitas belajar mengajar dengan mengandalkan teknologi digital.

Sayangnya, masih banyak pihak yang merasa kesulitan untuk menjalankan kegiatan pembelajaran secara online.

Akan tetapi, sebenarnya siap atau tidak, digitalisasi pendidikan harus segera direalisasikan demi terlaksananya pendidikan 4.0.

Namun, pertanyaannya apa saja yang harus dipersiapkan oleh pihak sekolah untuk menyambut era baru dari dunia pendidikan ini?

Menyambut digitalisasi pendidikan di Indonesia

Keberhasilan program digitalisasi pendidikan Indonesia sangat bergantung pada kesiapan dari setiap aspek, baik lembaga maupun sumber daya manusianya. Khususnya dalam aspek infrastruktur pendidikan.

Secara umum, sudah ada tiga aspek yang setidaknya dapat dikatakan cukup baik dalam merespon pendidikan berbasis digital yakni, regulator, pengajar atau guru, dan siswa.

Pemerintah telah menyiapkan dan membahas roadmap sistem yang akan dipakai. Termasuk platform, kurikulum, dan kualifikasi yang dibutuhkan. Sedangkan guru dan siswa tidak diragukan lagi sudah cukup familiar dengan teknologi digital.

Persoalan utamanya adalah infrastruktur penunjang yang dibutuhkan untuk bisa menyelenggarakan digitalisasi pendidikan secara menyeluruh. Contohnya adalah lab komputer dan sistem informasi sekolah.

Hanya untuk laboratorium komputer saja, masih banyak sekolah yang kesulitan memenuhi standar dari Kemendikbud, yakni 30 buah per sekolah. Bahkan bila ada sekalipun, kualitas dari perangkat yang dipakai masih jauh dari standar yang dapat menunjang platform teknologi pendidikan.

Tidak hanya perangkat, sekolah wajib memiliki sistem informasi yang mumpuni agar bisa diakses dengan lancar selama 24/7 oleh siswa, guru, serta orang tua. Namun, mayoritas sekolah bahkan belum membangun website resmi atau sistem informasi sejenis.

Pada akhirnya, sekolah atau lembaga pendidikan di Indonesia harus terlebih dulu berpikir bagaimana cara untuk menyediakan infrastruktur pendidikan yang layak untuk platform digital, sebelum melangkah ke pembangunan sistem.

Peran digitalisasi pendidikan

Digitalisasi pendidikan adalah sebuah konsekuensi logis dari perubahan zaman. Tidak ada satupun pihak yang bisa memprediksi bahwa teknologi akan diadopsi begitu cepat oleh industri dan masyarakat.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul cukup banyak opini dan prediksi, baik dari akademisi maupun profesional mengenai pro kontra digitalisasi bidang pendidikan di Indonesia.

Beberapa pihak menganggap bahwa digitalisasi pendidikan akan berpotensi akan menimbulkan dampak buruk bagi kultur pendidikan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) siswa Indonesia.

Lalu, apa sebenarnya dampak yang akan ditimbulkan dari perubahan sistem yang konvensional ke arah digital di bidang pendidikan, khususnya terhadap industri 4.0? Berikut di antaranya:

1. Serapan tenaga kerja lebih besar

Kehadiran industri 4.0 nyatanya telah menimbulkan kekhawatiran banyak pihak, dan salah satu isu besarnya adalah PHK. Akan tetapi, masih ada pihak yang cukup optimis bahwa fenomena tersebut tidak akan terjadi.

Apapun itu, rasionalisasi terhadap biaya dan metode produksi sudah pasti terjadi dalam dunia industri. Pekerja yang dinilai tidak cocok mengisi satu posisi tentu tidak akan mendapat tempat.

Salah satu cara ampuh untuk menekan dampak tersebut adalah digitalisasi pendidikan. Selain menjadikan siswa cukup dekat dengan teknologi dalam industri, para siswa juga akan diberikan insight tentang kekhususan ilmu yang mereka minati.

2. Inovasi teknologi dalam industri

Sistem pendidikan digital akan lebih memberi ruang pada siswa untuk bisa berpikir kritis, serta merancang gagasan penyelesaian masalah. Hal ini tentu akan semakin meningkatkan jumlah invensi dan menumbuhkan para inventor muda baru.

3. Meningkatkan daya saing di tingkat global

Batasan wilayah negara tidak akan lagi berlaku secara penuh saat industri 4.0 mencapai puncaknya. Hasilnya, persaingan ketat antara profesional di seluruh dunia sudah dapat dipastikan akan terjadi.

Untuk meningkatkan daya saing pekerja dan profesional Indonesia, sudah tentu diperlukan sistem pendidikan yang lebih sesuai. Baik kultur ataupun keahlian yang perlu dipelajari.

Namun, hal tersebut tentu bukan perkara yang mudah. Soalnya, untuk mewujudkan pendidikan 4.0 yang optimal tentu membutuhkan dana yang cukup seperti memberikan pelatihan kepada para guru, menerapkan pembelajaran digital hingga mengembangkan infrastruktur sekolah.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pintek menawarkan pinjaman dengan bunga rendah dengan limit pinjaman yang cukup besar yaitu melalui pendanaan modal kerja atau working capital loan.

Pinjaman modal kerja adalah jenis pinjaman yang dapat digunakan untuk pengadaan inventaris sekolah, membayar biaya operasional sekolah hingga membangun ruang kelas atau pengembangan perpustakaan.

Melalui pinjaman modal kerja, institusi pendidikan bisa mendapatkan pendanaan mulai dari Rp 50 juta hingga miliaran rupiah. Pihak sekolah bisa mendapatkan pencairan dana sebesar 10-20% dari total piutang secara bertahap selama tenor berjalan.

Bunga yang ditawarkan juga relatif ringan yaitu bunga flat mulai dari 0,9 hingga 2 persen per bulannya. Namun, pemberian bunga tersebut berdasarkan dari credit scoring yang sudah ditentukan oleh tim Pintek.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai pinjaman modal kerja di Pintek, kamu dapat langsung mengunjungi situs resmi Pintek atau DiskusiPintek. Kamu juga dapat menghubungi Pintek melalui email di customercare@pintek.id atau nomor telepon dan WhatsApp di 021-50884607.

Artikel Terkait

Back to top button