apa itu diversifikasi

Diversifikasi investasi menjadi salah satu strategi untuk meminimalisir kerugian investasi. Pasalnya, dengan melakukan diversifikasi berarti kamu mengalihkan dana ke beberapa instrumen. Lalu, apa itu diversifikasi?

Diversifikasi juga disarankan oleh miliarder yang kaya dari investasi yaitu Warren Buffett yang mengatakan, “Diversification is protection against ignorance. It makes little sense if you know what you are doing.”

Maksudnya adalah diversifikasi investasi bertujuan untuk melindungi kekayaan kamu dari kebangkrutan. Jadi, kamu harus mengalihkan dana investasi yang kamu miliki ke berbagai jenis instrumen efek.

Agar investasi kamu berjalan sesuai yang diinginkan, kamu perlu memahami apa itu diversifikasi investasi serta cara kerjanya. Yuk, simak artikel di bawah ini:

Apa itu diversifikasi investasi?

Apa itu diversifikasi investasi?

Diversifikasi investasi adalah cara untuk mengurangi risiko investasi dengan tidak fokus ke satu instrumen efek. Tujuannya adalah untuk meminimalisir kerugian dan memaksimalkan keuntungan yang didapatkan oleh investor.

Itulah mengapa dalam dunia investasi dikenal dengan istilah don’t put your eggs in one basket. Artinya yaitu jangan meletakkan semua telur yang kamu miliki dalam satu keranjang karena jika keranjang tersebut jatuh maka semua telur kamu akan pecah.

Sama halnya dengan investasi, investor disarankan untuk tidak menggelontorkan dana di satu instrumen saja karena jika instrumen tersebut mengalami kerugian, maka masih ada instrumen lain yang dapat memberikan keuntungan. Hal itulah yang disebut diversifikasi investasi.

Jadi diversifikasi investasi dapat mengurangi risiko kerugian yang akan dialami oleh investor. Diversifikasi juga menjadi cara agar kamu mendapatkan keuntungan investasi yang maksimal.

Baca Juga: Investor Pemula Wajib Tahu 10 Dunia Investasi ini Biar Cuan Berlimpah!

Cara kerja diversifikasi

Cara kerja diversifikasi

Menurut para ahli, investor tidak diperbolehkan untuk menaruh dana di satu instrumen karena jika instrumen tersebut anjlok maka investor akan mengalami kerugian yang sangat besar.

Oleh karena itu, para investor harus membagi dana ke beberapa investasi yang berbeda agar jika salah satu investasi ada yang merugi, masih ada instrumen lain yang memberikan keuntungan.

Karakteristik dari diversifikasi adalah jangan menaruh semua dana ke instrumen yang memiliki tingkat risiko yang sama. Soalnya, jika instrumen tersebut mengalami kerugian maka semua uang kamu miliki akan hilang. 

Misalnya, kamu menanamkan modal ke investasi saham yang memang dikenal memiliki tingkat risiko yang tinggi, maka kamu disarankan untuk menggelontorkan sisa dana yang kamu miliki ke instrumen investasi yang tingkat risikonya menengah atau kecil seperti reksadana pasar uang atau obligasi.

Selain itu agar kamu mendapatkan keuntungan yang maksimal maka kamu disarankan untuk mengalihkan 50 persen dana yang kamu miliki ke instrumen yang sesuai dengan karakteristik kamu.

Contoh kasus diversifikasi investasi

Contoh kasus diversifikasi investasi

Sinta bekerja di sebuah perusahaan dengan penghasilan per bulan sebesar Rp 10 juta. Jika mengikuti teori mengatur keuangan 50/20/30, Sinta diharuskan menyisihkan uang sebesar Rp 2 juta per bulan untuk investasi. 

Agar tujuan investasinya dapat terwujud, maka Sinta melakukan diversifikasi investasi yakni dengan bermain di berbagai sektor pasar yaitu investasi saham, reksadana pendapatan tetap dan tabungan emas. Sinta sendiri diketahui memiliki karakteristik agresif.

Berikut rincian dana yang harus digelontorkan Sinta beserta perhitungan keuntungannya jika ia berinvestasi selama lima tahun.

1. Investasi saham

  • Modal: Rp 1.000.000 per bulan. Berarti lima tahun modal yang dikeluarkan sebesar Rp 1.000.000 X 60 bulan = Rp 60.000.000.
  • Saham PT ABC Rp 2.000 per lot.
  • Kenaikan rata-rata saham PT ABC per lotnya selama lima tahun berada di angka Rp 5.000.
  • Dividen Rp 5.000.000.
  • Biaya online trading: 0,1 persen.
  • Biaya pajak penjualan: 0,1 persen.
  • Biaya pajak dividen: 10 persen

Maka, Sinta memiliki total lot sebanyak Rp1.000.000 / Rp 2.000 yaitu 500 lot setiap bulan. Jika diakumulasikan selama lima tahun, Sinta memiliki total lot saham di PT ABC sebanyak 500 X 60 bulan yakni 30.000.

Berarti, keuntungan yang didapatkan Sinta yaitu sebesar Rp 5.000 X 30.000 lot = Rp 150.000.000. Keuntungan tersebut belum ditambah dividen sebesar Rp 5.000.000 dan dipotong dengan beberapa biaya. Maka, Rp 150.000.000 + Rp 5.000.000 = Rp 155.000.000.

Namun, Sinta diharuskan untuk membayar beberapa biaya seperti yang sudah disebutkan di atas. Berikut perhitungannya:

Rp 155.000.000 – (0,1 persen biaya online trading + 0,1 persen biaya pajak penjualan + 10 persen pajak dividen) = Rp 139.500.000.

Dengan begitu, total uang yang dimiliki Sinta sebesar Rp 139.500.000 + Rp 60.000.000 = Rp 199.500.000.

Baca Juga: Perbedaan Reksadana Saham dan Investasi Saham Serta Simulasi Keuntungannya!

2. Reksadana pendapatan tetap

  • Modal: Rp 500.000 X 60 bulan = Rp 30.000.000
  • Return: 55,84 persen.
  • Fee manajer investasi: Rp 100 ribu.

Maka, Rp 30.000.000  X 55,84 persen = Rp 16.752.000. Berarti keuntungan bersih yang diperoleh Sinta yaitu sebesar Rp 16.752.000 – Rp 100.000 = Rp 16.652.000.

Dengan begitu, total uang yang didapatkan Sinta dengan berinvestasi di reksadana pendapatan tetap selama lima tahun yakni sebesar Rp 16.652.000 (keuntungan bersih) + Rp 30.000.000 (modal) = Rp 46.652.000.

3. Tabungan berjangka

  • Modal: Rp 500.000 X 60 bulan = Rp 30.000.000.
  • Bunga tabungan berjangka Bank BCA selama lima tahun di angka, 3 persen.

Berarti keuntungan yang didapatkan Sinta yaitu sebesar Rp 30.000.000 X 3 persen = Rp 900.000. Jika dihitung dengan ditambahkan modal, Sinta mendapatkan total uang sebesar Rp 39.000.000.

Dengan modal sebesar Rp 2.000.000 setiap bulan, Sinta dapat menghasilkan keuntungan hingga Rp 199.500.000 (investasi saham) + Rp 46.652.000 (reksadana pendapatan tetap) + Rp 39.000.000 (tabungan berjangka) = Rp 285.152.000.

Berarti keuntungan bersih yang didapatkan Sinta yaitu sebesar Rp 285.152.000 (keuntungan) – Rp 120.000.000 (modal) = Rp 165.152.000.

Kelebihan dan kekurangan diversifikasi

Kelebihan dan kekurangan diversifikasi

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan diversifikasi investasi yang perlu kamu ketahui. Apa saja? Berikut di antaranya:

No

Kelebihan

Kekurangan

1

Meminimalisir risiko kerugian Menuntut investor untuk memahami beragam jenis instrumen investasi

2

Meningkatkan keuntungan Menutup peluang keuntungan investasi

3

Kepastian return investasi Memperlambat kinerja portofolio

4

Meningkatkan daya saing

5

Menambah ilmu pengetahuan mengenai dunia investasi

Investasi memang menjadi salah satu cara untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah yang berlimpah. Namun, selain investasi kamu juga dapat sukses dan kaya raya lewat bisnis.

Jadi, keuntungan investasi bisa kamu gunakan untuk membangun bisnis. Sedangkan untuk mengembangkan skala bisnis, kamu dapat menggandeng Pintek melalui layanan keuangan yang ditawarkan.

Pintek sebagai perusahaan yang bergerak di finansial teknologi memiliki misi untuk mendorong transformasi pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, kamu yang menjalankan bisnis di sektor pendidikan dapat mengajukan pembiayaan di Pintek agar usaha kamu dapat berjalan maksimal.

Kamu dapat mengajukan Pendanaan PO/Invoice dan berkesempatan mendapatkan pendanaan hingga miliaran rupiah dengan bunga efektif mulai dari 1,5 persen hingga 2,5 persen dan tenor pinjaman mencapai enam bulan atau mengikuti jatuh tempo invoice.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai program pendanaan di Pintek, kamu bisa melakukan diskusi melalui TanyaPintek atau mengunjungi situs resmi Pintek dan menghubungi Pintek di nomor di 021-50884607.

Kunjungi juga Instagram @pintek.id dan @pintek.biz untuk mengetahui informasi menarik lainnya dari Pintek.