fasilitas sekolah

Bila hari ini Anda menemukan banyak data tentang lulusan sekolah kejuruan atau vokasi yang menganggur, maka data tersebut harus segera direvisi. Sebab, di era industri 4.0 kemungkinan besar akan menjadi lebih buruk.

Bahkan berdasarkan data BPS bulan Mei 2020, jumlah pengangguran dari sekolah kejuruan mendominasi di angka 8,49%.

Penyebab seperti daya serap industri terhadap lulusan vokasi tidak seimbang dan kompetensi keahlian yang tidak sesuai selalu menjadi masalah utama.

Lalu, apa hal yang harus disiapkan sekolah kejuruan agar siswa mampu bersaing di era industri 4.0? Sebagai berikut:

7 Fasilitas Sekolah Kejuruan Penunjang Era Industri 4.0

sarana dan prasarana sekolah

Tidak ada solusi yang lebih baik dari menyiapkan segala fasilitas pendidikan serta praktik terbaik untuk siswa sekolah kejuruan agar mampu bersaing dalam era industri 4.0 ini.

Berikut beberapa fasilitas yang harus disiapkan oleh sekolah kejuruan untuk dua hingga tiga tahun kedepan:

1. Bengkel Praktik Berstandar Industri Terkini

Kelengkapan bengkel praktik bagi sekolah kejuruan merupakan salah satu indikator terbaik untuk mengukur kualitas dari pembelajaran di kelas.

Di dalam bengkel ini jugalah siswa akan mengembangkan ide-ide kreatif mereka menjadi prototype untuk diuji.

Namun, hingga sekarang sebagian besar sekolah kejuruan masih memakai perangkat dengan teknologi rendah untuk kegiatan praktik siswanya.

Tanpa adanya bengkel praktik yang berstandar industri terkini, siswa akan kesulitan untuk menerapkan metode dan SOP dari perusahaan di dunia kerja setelah mereka lulus.

Jurusan ilmu perangkat lunak/komputer misalnya, sekolah yang tidak bisa menyediakan perangkat yang kompatibel dengan teknologi AI, cloud, dan software pengembangan lainnya tentu tidak akan mampu menghasilkan lulusan yang diinginkan oleh industri 4.0.

Bahkan di jurusan ilmu survei dan pemetaan, saat ini masih cukup banyak sekolah vokasi yang hanya menggunakan alat ukur tanah untuk praktik.

Padahal industri 4.0 membutuhkan metode yang lebih efektif dan efisien, seperti Autocad, GIS, GPS, hingga navigasi untuk kebutuhan perencanaan proyek.

Untuk itulah, sekolah kejuruan harus berani berinvestasi dengan nilai yang besar untuk menjamin siswa lulusannya benar-benar bisa diterima oleh industri.

2. Fasilitas E-Learning dan Pembelajaran Jarak Jauh

Siswa yang mempelajari teori selama tiga hingga empat tahun di kelas tidak akan bisa berbuat lebih banyak dari siswa yang telah berpraktik 6 hingga 12 bulan di lapangan.

Namun, dengan sistem pendidikan konvensional seperti sekarang, siswa tidak akan bisa meninggalkan sekolah dalam waktu yang lama untuk bisa terjun ke lapangan.

Oleh karena itu, sekolah kejuruan harus menyediakan platform e-learning untuk kebutuhan pembelajaran jarak jauh bagi siswa mereka yang sedang magang atau praktik di luar sekolah.

Khususnya untuk keilmuan “lapangan” seperti pertanian, kelautan, bisnis, hingga geologi pertambangan.

E-learning juga sangat penting bagi siswa-siswa berbakat untuk mengikuti program pelatihan khusus industri di dalam dan luar negeri.

3. Kurikulum Big Data dan Internet of Things (IoT)

Industri 4.0 adalah era-nya internet of things (IoT) dan big data. Sebab, hampir semua faktor produksi akan sangat bergantung pada internet dan platform pendukungnya.

Misalnya saja industri pertanian, dalam dua atau tiga tahun ke depan, alat produksi pertanian akan segera dioptimasi menjadi perangkat digital.

Khususnya di bidang manajemen pertanian, perencanaan tanam/panen, dan agribisnis.

Oleh karena itu, siswa harus mengerti betul tentang internet of things dan metode pengembangannya.

Namun, mustahil bagi sekolah untuk memberikan materi biga data dan IoT yang tepat tanpa adanya kurikulum khusus.

4. Akses Jurnal dan Event Teknologi Internasional

Di era pendidikan 4.0, jurnal penelitian bukan hanya digunakan untuk mahasiswa saja. Tetapi juga oleh seluruh tingkat pendidikan, khususnya sekolah kejuruan (SMK/STM).

Sebab, di sekolah kejuruanlah gagasan dan ide baru dapat dikembangakan. Kedekatan siswa dengan teknologi, laboratorium praktik, dan praktisi di berbagai bidang akan menjadi faktor penentu sejauh mana sebuah gagasan bisa realisasikan di tingkat pendidikan formal.

Namun, untuk bisa mendapatkan dan mengembangkan ide baru, siswa harus memperluas dan memperdalam referensi literasi mereka, terutama dari berbagai jurnal penelitian yang dikeluarkan oleh universitas, lembaga penelitian, hingga korporasi.

Selain itu, siswa juga harus melihat langsung bagaimana hasil dari invensi terbaru yang akan dirilis ke pasar. Salah satunya adalah kunjungan rutin ke event seperti techno fair atau entrepreneur expo.

Dengan cara tersebut, siswa tidak hanya akan terinspirasi, tetapi juga akan mencoba untuk mengembangkan teknologi yang pernah mereka lihat dengan peralatan serta material yang mereka miliki.

5. Kerjasama Pelatihan dan Workshop dengan Industri

Untuk dapat menambah dan memaksimalkan potensi siswa-siswa sekolah kejuruan, sekolah juga wajib membawa mereka untuk melakukan kegiatan kunjungan industri. Tidak hanya satu kali setahun, tetapi 3 hingga 5 kali setahun.

Siswa harus mengerti bagaimana industri bekerja, serta memahami sistem yang industri terapkan dalam merespons pasar dan mengembangkan teknologi mereka.

6. Program Student Showcase

Student showcase merupakan sebuah wadah untuk mempublikasikan hasil dari kerja keras, kreativitas, penemuan, inovasi, dan jiwa kewirausahaan siswa sekolah kejuruan.

Dengan student showcase, baik siswa maupun sekolah bisa mendapatkan perhatian langsung dari industri untuk perekrutan dan pengembangan hasil invensi yang dipamerkan.

Namun, program student showcase tidak hanya untuk menarik perhatian, tetapi juga digunakan untuk tempat mencari penyelesaian masalah yang tidak pernah terpikirkan industri dan pemerintah.

Siswa yang berbakat dan memiliki ide cemerlang juga akan mendapatkan kesempatan lebih untuk bergabung di proyek-proyek dengan skala yang jauh lebih besar.

Era industri 4.0 adalah arena kompetisi kreativitas dan inovasi. Oleh karena itu, sangat penting bagi seluruh sekolah kejuruan untuk membuat program dan platform student showcase mereka sendiri.

7. Program Pendanaan dan Startup Incubator

Masalah pertama dari sebuah pengembangan ide adalah dana pembiayaan proyek. Khususnya untuk para inventor muda yang masih berstatus siswa sekolah menengah.

Untuk itulah, sekolah harus membuat program pendanaan khusus untuk membiayai proyek yang digagas oleh siswa.
Selain menyediakan dana, sekolah juga wajib menyiapkan program berupa inkubator startup untuk siswa yang ingin mengembangkan gagasan secara mandiri.

Program pendanaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti kerjasama pembiayaan dengan industri, lembaga keuangan, atau modal kolektif dari para siswa dan guru (crowdfunding).

Baca Juga : Administrasi Sekolah Sesuai 8 Standar Nasional Pendidikan

Wujudkan Sekolah Standar Industri 4.0 Bersama Pintek

bisnis pendidikan

Mewujudkan sekolah kejuruan dengan fasilitas yang sesuai dengan industri 4.0 bukanlah persoalan mudah. Selain sebagian besar pendidik di Indonesia masih awam tentang apa itu “industri 4.0”, dana yang dibutuhkan juga cukup besar.

Namun, Anda tidak boleh hanya menunggu atau bahkan tidak melakukan usaha apapun. Sebab, kompetisi global telah dimulai!

Untuk itu, Pintek menyiapkan beberapa program pinjaman dan pendanaan yang dikhususkan untuk lembaga pendidikan yang ingin mengembangkan potensi siswa dan fasilitas sekolah.

Anda bisa mengajukan permohonan di program Pendanaan PO/Invoice untuk proyek jangka pendek dan pengadaan barang, atau program Pinjaman Modal Kerja untuk proyek pengembangan infrastruktur sekolah.

Silahkan pelajari syarat dan ketentuan dari masing-masing program Pintek disini.