Pendidikan

Pengembangan Fasilitas Sekolah Menyambut Program “Merdeka Belajar”

Dicetuskannya program “Merdeka Belajar” oleh Nadiem Makarim dianggap sebagai gagasan progresif untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Untuk mendukung pelaksanaannya, fasilitas sekolah perlu ditingkatkan.

Pro kontra Merdeka Belajar sempat mewarnai lini masa. Hal ini tidak mengherankan karena track record program pendidikan yang dicetuskan pemerintah seringkali gagal memenuhi ekspektasi masyarakat.

Pemilihan nama program “Merdeka Belajar” mengacu pada filosofi dari Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan yang merdeka dan mandiri. Nadiem Makarim meyakini bahwa konsep Merdeka Belajar akan menjadi terobosan positif bagi perkembangan pendidikan nasional yang stagnan selama bertahun-tahun.

Memahami Konsep Merdeka Belajar

Secara garis besar, konsep Merdeka Belajar Kemendikbud bagi sekolah terbagi dalam 3 poin utama, yaitu:

1. Digitalisasi Sekolah

Digitalisasi pendidikan adalah suatu keniscayaan di era ini. Segala aspek kehidupan saat ini begitu dekat dengan dunia digital. Pendidikan harus bisa relevan dengan perkembangan ICT ini. Sekolah digital harus mulai diinisiasi.

Murid harus difasilitasi untuk dapat mengakses berbagai konten pendidikan, pelatihan, hingga akses pada jasa bimbingan belajar. Hal ini akan memberi kebebasan bagi peserta didik untuk bisa belajar dari berbagai sumber.

Digitalisasi juga bisa membantu para guru mencari bahan ajar terupdate dan menarik untuk pengajaran. Kegiatan yang bersifat administratif juga akan dimudahkan.

2. Sekolah Penggerak dan Guru penggerak

Sekolah Penggerak adalah sekolah yang hadir sebagai percontohan bagi sekolah-sekolah lain berkaitan dengan pelaksanaan Merdeka Belajar.

Menjadi Sekolah Penggerak bukan sekedar menghadirkan fasilitas atau infrastruktur yang mumpuni, tapi juga berkaitan dengan jumlah rasio Guru Penggerak yang ada di dalam sekolah tersebut.

Program Guru Penggerak adalah pelatihan/pendidikan bagi guru yang lolos seleksi untuk bisa menjadi pelaksana pembelajaran sesuai azas Merdeka Belajar. Pendidikan dilakukan selama 9 bulan dengan pendampingan yang profesional.

Guru Penggerak diharapkan bisa jadi mentor bagi guru-guru lainnya supaya ekosistem pendidikan yang berpusat pada murid bisa dijalankan secara penuh.

3. Peningkatan Kualitas pada Kurikulum Pendidikan dan Asesmen Kompetensi Minimum

Kurikulum akan kembali disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Pelaksanaan UN juga akan diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum. Aspek yang diukur pada asesmen ini adalah:

  • Literasi
  • Numerasi
  • Karakter

Konsep ini diharapkan bisa menggali potensi siswa dan guru secara maksimal. Pembelajaran bisa ditingkatkan secara mandiri dan inovasi pendidikan bisa terus terjadi.

Implementasi Merdeka Belajar

sekolah digital

Kurang lebih, berikut ini adalah implementasi Merdeka Belajar pada proses pembelajaran di sekolah yang akan terjadi:

1. Blended Learning

Proses pembelajaran bisa lebih fleksibel dan interaktif. ICT dimanfaatkan untuk bisa melaksanakan pembelajaran yang tidak terbatas tempat dan waktu. Segala konten belajar juga disediakan secara digital.

Untuk implementasi ini, fasilitas yang dibutuhkan diantaranya:

  • School Management System.
  • Learning Management System.
  • Tablet/smartphone bagi seluruh siswa.
  • dll.

2. Student Orientation

Pembelajaran berpusat pada siswanya. Proses pembelajaran tidak lagi kaku. Guru menjadi fasilitator dan rekan belajar para murid.

Untuk mendukung implementasi ini, sekolah membutuhkan banyak alat peraga pendidikan dan beberapa teknologi untuk menunjang proses pendidikan. Fasilitas ekstrakurikuler juga perlu dilengkapi untuk mendukung peningkatan potensi siswa.

3. Pembelajaran Berbasis Proyek

Teori tanpa praktek rasanya jadi sia-sia. Dengan menjalankan pembelajaran berbasis proyek, murid bisa langsung menerapkan hal-hal yang sudah dipelajari untuk mengatasi suatu masalah atau menemukan sesuatu.

Supaya implementasi ini lebih optimal, sekolah perlu memperlengkapi laboratorium pendidikan yang dibutuhkan.

4. Link and Match

Lembaga pendidikan seharusnya bisa bersinergi dengan dunia kerja. Link & Match dalam hal ini bisa berkaitan dengan penerapan kurikulum yang sesuai kebutuhan industri maupun beberapa kerjasama lain antara lembaga pendidikan dan perusahaan.

5. Penerapan ICT

Hidup di era digital menuntut para murid dan guru memiliki skill di bidang komputer dan analisis data yang baik. Keterampilan di bidang ini sangatlah urgen mengingat perkembangan industri 4.0 semakin mengarah Internet of Things dan big data.

Pendidikan tentang penggunaaan komputer, internet, programming, analisis data, dll harus mulai diterapkan baik itu bagi siswa maupun guru.

Untuk bisa mengoptimalkan implementasi ini, sekolah butuh menyediakan sejumlah komputer di sekolah dengan spesifikasi cukup mumpuni.

Ke lima hal di atas tentu saja hanya sebagian dari implementasi yang mungkin terjadi pada program Merdeka Belajar. Tentu akan ada lebih banyak hal lain yang bisa dilaksanakan sekolah.

Fasilitas sekolah yang disampaikan di atas juga hanya gambaran kecil. Jika fasilitas pendidikan tersedia lebih lengkap, pelaksanaan pendidikan berbasis Merdeka Belajar tentu saja bisa didorong lebih optimal.

Baca Juga : Lebih Bersaing! Upgrade Fasilitas LPK bersama Pintek

Pintek, Solusi bagi Pengembangan Fasilitas Sekolah

kebutuhan sekolah

Menyediakan fasilitas penunjang untuk pendidikan di sekolah bukanlah perkara mudah. Sekolah membutuhkan biaya yang cukup besar. Jika menunggu terlalu lama untuk pengembangan, sekolah bisa saja tertinggal dengan trend zaman.

Sebagai startup fintech yang ingin terlibat dalam pengembangan pendidikan nasional, Pintek siap memberi solusi untuk masalah ini. Pintek menyediakan skema pinjaman khusus lembaga pendidikan bernama Pintek Institution untuk peningkatan mutu.

Pintek Institution sendiri terbagi dalam 2 skema pinjaman, yaitu:

1. Pinjaman Modal Kerja

Skema pinjaman ini bisa digunakan oleh lembaga pendidikan baik itu sekolah, perguruan tinggi, lembaga kursus, hingga lembaga pelatihan kerja.

Sekolah yang mengajukan Pinjaman Modal Kerja ke Pintek bisa mendapatkan dana segar mulai dari 500 juta hingga milyaran rupiah. Dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk melengkapi fasilitas pendidikan di sekolah.

Skema pinjamannya cukup memudahkan institusi pendidikan. Tenor pinjaman bisa dipilih antara 3 bulan hingga 24 bulan. Bunganya juga relatif ringan, mulai dari 0,9%-2%, flat per bulan. Semakin baik hasil credit scoring akan mendapat beban bunga yang kecil.

2. Pendanaan PO/Invoice

Skema pinjaman ini cocok untuk perusahaan supplier pendidikan yang menjadi rekanan institusi pendidikan untuk memenuhi fasilitas pendidikan. Perusahaan yang mengajukan pinjaman ini ke Pintek akan mendapatkan pinjaman dana untuk menyelesaikan project dari institusi pendidikan.

Skema pinjaman ini membutuhkan dokumen PO/Invoice sebagai jaminan. Jika perusahaan menjaminkan dokumen invoice, pencairan dananya 80% dari nilai invoice. Jika menggunakan jaminan dokumen PO, pencairan dananya bisa mencapai 100% dari nilai PO.

Tenor yang diberikan pada skema pinjaman ini bisa mencapai 6 bulan. Lamanya tenor akan bergantung pada waktu jatuh tempo PO/Invoice.

Beban bunganya antara 1,5-2,5% dengan tipe bunga efektif.

Pengajuan pinjaman ke Pintek cukup mudah. Anda bisa mengajukan melalui website Pintek atau langsung menghubungi call center Pintek.

Syarat-syarat yang dibutuhkan untuk mengajukan pinjaman diantaranya:

  • Institusi wajib berbadan hukum.
  • Institusi memiliki kelengkapan dokumen legalitas, keuangan, dan verifikasi yang dipersyaratkan.
  • Profil manajemen dinilai baik.
  • Institusi sudah berdiri setidaknya 2 tahun.
  • Jika meminjam di atas 1 M, wajib memberi jaminan yang ditentukan.

Pintek sudah dipercaya oleh lebih dari 100 lembaga pendidikan hingga Januari 2020 ini.

Hadirnya Pintek mampu mengatasi masalah pendanaan yang dihadapi institusi pendidikan. Melengkapi fasilitas sekolah bisa dicapai dengan bantuan dana dari Pintek. Segera hubungi Pintek sekarang juga.

Artikel Terkait

Back to top button