Ini Dia Standar Sarana dan Prasarana Sekolah Selama New Normal!

Kemendikbud telah menetapkan tahun ajaran baru dimulai sejak 13 Juli lalu dengan beberapa protokol khusus. Bukan hanya metode kegiatan belajar, tetapi juga standar sarana dan prasarana di lingkungan sekolah.

Lalu, apakah sekolah atau lembaga pendidikan telah siap dengan syarat yang telah ditetapkan oleh pemerintah? Berikut standar dalam protokol kesehatan “new normal” yang harus sekolah penuhi agar bisa kembali membuka sekolah.

Protokol Kesehatan, Standar Sarana dan Prasarana Sekolah!

sarana dan prasarana sekolah

Pemerintah telah menghimbau seluruh lembaga dan berbagai lapisan masyarakat untuk tidak melanggar protokol kesehatan. Bermacam sanksi pun telah disiapkan bagi pihak-pihak yang masih “membandel.”

Sebab, saat ini persebaran zona merah Covid-19 masih cukup luas dan berkembang sangat signifikan. Oleh karena itu, semua lembaga pemerintahan dan swasta, khususnya sekolah dihimbau untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Standar dan protokol kesehatan di sekolah dibagi menjadi dua zona, yakni di dalam kelas dan di lingkungan sekolah secara umum, serta berlaku untuk semua pihak. Berikut penjelasan secara detilnya:

  • Protokol di lingkungan sekolah

Pemerintah telah menghimbau penerapan aturan wajib memakai masker baik saat kegiatan belajar maupun saat berada di lingkungan sekolah. Bagi pihak yang tidak mematuhi protokol tidak diizinkan masuk, termasuk kepala sekolah, guru, murid, hingga tamu.

Selain itu, semua orang yang masuk ke lingkungan sekolah wajib diperiksa dengan alat ukur suhu tubuh atau thermogun. Setelah dinilai bebas Covid-19, semua orang harus mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer yang telah disediakan.

  • Protokol di dalam kelas

Kelas yang akan digunakan wajib disterilkan selama 15 menit untuk kegiatan penyemprotan desinfektan oleh petugas kelas atau pihak yang ditunjuk sekolah secara khusus.

Sekolah juga wajib menerapkan aturan 18 siswa dalam satu kelas atau sepertiga dari jumlah siswa. Selain itu, siswa dan guru dilarang memakai sepatu di dalam kelas, serta wajib menggunakan masker.

Ini adalah aturan umum yang wajib diberlakukan oleh sekolah di semua zona. Akan tetapi, sekolah-sekolah di zona merah tentu harus menerapkan aturan yang lebih ketat untuk menjamin kesehatan siswa dan guru.

Baca Juga : Mewujudkan Pendidikan 4.0 untuk Generasi Emas 2045

Fasilitas Standar Sarana dan Prasarana Sekolah “New Normal”

protokol kesehatan

Untuk bisa menjalankan kegiatan belajar secara baik, sekolah harus menyediakan fasilitas dengan standar sarana dan prasarana yang sesuai dengan aturan protokol kesehatan dari pemerintah. Sebagai berikut:

  • Alat-alat kebersihan dan kesehatan

Sekolah harus menyediakan semua alat-alat kebersihan untuk memastikan kelas selalu dalam keadaan steril. Seperti alat pel atau pun vacuum cleaner agar semua kotoran dapat dibersihkan dengan cepat dan berkala.

Sekolah juga wajib memasang wastafel di berbagai tempat agar siswa dan guru bisa dengan mudah mencuci tangan. Namun, penyediaan alat kebersihan saja tidaklah cukup.

Sekolah harus menyediakan alat kesehatan selengkap mungkin untuk mengantisipasi siswa yang jatuh sakit. Karena kontak fisik sangat tidak dianjurkan, sekolah juga mungkin akan membutuhkan APD untuk keadaan darurat.

  • Ruang kelas steril dan sesuai regulasi

Sesuai aturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, semua kelas harus disterilkan dengan desinfektan sebelum digunakan. Oleh karena itu, sekolah harus memiliki stok bahan desinfektan beserta alat semprotnya.

Sekolah juga harus menyediakan ruang kelas lebih banyak untuk menjamin tidak ada penularan Covid-19. Sebab, kuota yang dianjurkan oleh pemerintah adalah sepertiga siswa per kelas.

  • Loker pribadi dan rak sepatu khusus

Sekolah dianjurkan membuat tempat untuk menyimpan barang pribadi siswa. Salah satunya adalah fasilitas lemari atau loker. Ini Untuk mengantisipasi pola penyebaran virus Covid-19 yang masih belum bisa dipastikan.

Anjuran lain yang harus diperhatikan adalah larangan memakai sepatu atau alas kaki di dalam kelas. Oleh sebab itu, sekolah juga harus menyediakan rak sepatu untuk para siswa dan guru dengan jumlah yang memadai.

  • Tenaga kesehatan sekolah

Pada umumnya, sekolah di Indonesia tidak memiliki tenaga kesehatan atau perawat khusus di sekolah. Namun, sekolah harus menyediakan tenaga kesehatan untuk situasi darurat serta untuk kepentingan edukasi.

Sekolah tidak bisa menyerahkan penanganan kesehatan para siswa kepada guru atau staf sekolah yang tidak memiliki pengalaman medis. Saat ini adalah kondisi di mana semua tindakan harus dilakukan sesuai standar yang tepat.

  • Alat cek suhu badan

Alat untuk memeriksa suhu badan atau thermogun juga harus disediakan oleh sekolah. Alat ini adalah instrumen protokol kesehatan wajib ada di sekolah. Semua orang harus diperiksa terlebih dahulu sebelum diizinkan masuk ke dalam gedung atau lingkungan sekolah. 

  • Platform e-learning untuk siswa

Pengurangan kapasitas kelas hingga 2/3 sangatlah mengganggu kegiatan belajar mengajar. Siswa harus masuk secara bergantian di setiap sesi belajar. Ini juga akan menambah beban kerja dari guru kelas yang mengajar siswa.

Pihak sekolah secara mandiri harus menyediakan platform belajar online atau e-learning untuk siswa. Pemakaian teknologi darurat seperti pada awal pandemi telah terbukti sangat tidak efektif.

Khususnya untuk sekolah-sekolah yang berada di zona merah yang masih tidak bisa dipastikan akan dibuka dengan normal. Bahkan ada beberapa opsi dan skenario sekolah akan dibuka pada Januari 2021.

Anggaran Khusus yang Perlu Disiapkan Sekolah

manajemen sekolah

Penerapan protokol kesehatan serta standar sarana dan prasarana sekolah tentu akan sangat membebani finansial dari lembaga. Bahkan ada beberapa fasilitas dan alat yang cukup langka atau berharga tinggi pada kondisi pandemi ini.

Lalu, ada berapa anggaran yang diperlukan sekolah agar bisa menerapkan semua standar dan protokol yang dianjurkan pemerintah? Walaupun tidak pasti, tapi nilai kasarnya tentu dapat menjadi dasar pertimbangan, bukan?!

Pertama adalah thermogun, harga alat ini dipasaran bisa mencapai Rp 500 ribu atau bahkan lebih. Sekolah pun tentu membutuhkan lebih dari satu alat untuk bisa dipakai memeriksa semua siswa dan staf sekolah dalam rentang waktu pendek.

Kedua adalah wastafel atau sink, harganya bervariasi, mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta untuk jenis injak portable. Harga ini belum termasuk pemasangan dan instalasi plumbing-nya.

ketiga adalah desinfektan, harga satu liter desinfektan di kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 180 ribu. Tergantung luas gedung dan jumlah kelas, tetapi bila dihitung secara rata-rata, sekolah membutuhkan setidaknya 5 – 10 liter per hari.

Bila melihat dari tiga item tersebut, sekolah harus mengeluarkan belasan hingga puluhan juta per bulan. Belum termasuk pembelian platform e-learning yang berharga jutaan rupiah, fasilitas loker, rak sepatu dan penyedian tenaga kesehatan.

Besar anggaran tahunan sekolah yang telah ditetapkan Januari lalu tentu tidak akan cukup hanya untuk memenuhi standar dari protokol kesehatan saja. Sekolah saat ini akan sangat membutuhkan dana eksternal, khususnya untuk sekolah swasta yang tidak disubsidi oleh pemerintah.

Untuk membantu mengurangi beban sekolah di situasi saat ini, Pintek menawarkan program cicilan pengadaan kebutuhan sekolah selama pandemi dan new normal. Silahkan kunjungi tautan berikut untuk informasi lebih detail Klik disini.

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *