tantangan generasi milenial

Generasi milenial yang dikenal sebagai generasi Y (lahir dari tahun 1982 hingga 1992) memiliki tantangan khusus di zamannya yang tidak sama dengan generasi x sebelumnya. Tantangan generasi milenial terutama mereka yang berstatus mahasiswa bahkan lebih spesial lagi, apakah Pinters termasuk yang merasakannya?

Era milenial identik dengan teknologi. Disrupsi teknologi dan perkembangan dunia yang semakin pesat menuntut respon yang lebih serupa dari generasi di setiap zamannya. Lalu apa yang menjadi peran dan tantangan generasi di era milenial?

Peran Generasi Milenial Mahasiswa

tantangan generasi milenial

Mahasiswa merupakan kaum muda yang memiliki peran signifikan dalam membangun negara. Pinters tentu pernah mendengar ungkapan Bung Karno yang mengatakan, ‘beri aku 10 orang pemuda, maka akan kugoncangkan dunia ini.

Perilaku generasi milenial yang sesuai dengan zamannya tetap dituntut memiliki beberapa peran penting sebagai berikut dalam posisi mereka sebagai mahasiswa, antara lain:

1. Peran Agent of Change

Dini Shanti Purwono selaku alumni dari Fakultas Hukum di Universitas Indonesia & Harvard Law School menyebutkan, ada beberapa sikap yang semestinya ada pada mereka yang menjalankan peran sebagai agent of change.

Sikap tersebut antara lain memiliki visi misi yang jernih, gigih mencapai target, memiliki sikap kritis dan analitis, memiliki pengetahuan kepemimpinan dan bisa menjadi contoh, serta memiliki ‘trust’ yang kuat di hadapan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Mahasiswa dengan segala karakter ‘milenialnya’ tetap dituntut memiliki kriteria seperti di atas jika ingin melakukan perubahan kehidupan sosial dan masyarakat, terlebih yang terkait dengan kehidupan politik bernegara.

2. Peran di Bidang Pendidikan

Karakteristik generasi milenial yang cenderung kreatif dan menyukai hal-hal yang proaktif menjadi salah satu peran di bidang pendidikan yang dibutuhkan.

Sebuah prosiding yang dipublikasikan oleh Dera Kharisma, dkk dari Universitas Nusantara PGRI Kediri menyebutkan, sebanyak 94,8% mahasiswa milenial mengaku optimis dengan kondisi pendidikan mereka di masa akan datang dengan perilaku keterlibatan yang proaktif di dunia pendidikan tersebut.

Pendidikan merupakan bekal penting bagi Pinters untuk mengikuti perkembangan zaman.

Bukan hanya pendidikan untuk diri sendiri, tetapi sebagai generasi milenial yang proaktif, Pinters juga perlu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Pada akhirnya membantu kualitas pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Tantangan Generasi Milenial Mahasiswa

generasi milenial

Bukan hanya peran, tantangan yang nyata juga dihadapi oleh mahasiswa milenial saat ini dalam menyelesaikan studi maupun setelah pasca studi.

Apa saja tantangan tersebut?

1. Penguasaan Teknologi

Perkembangan teknologi yang begitu masif, era disrupsi teknologi yang terjadi lebih cepat dengan adanya masa pandemi membuat tantangan khusus di bidang teknologi bagi generasi milenial terasa lebih serius.

Gaya hidup generasi milenial yang cenderung sangat dekat dengan teknologi menuntut sikap proaktif sebagai pencipta teknologi tersebut, bukan hanya sebagai pengguna.

Terkait dengan status sebagai mahasiswa, paling tidak mahasiswa mampu memanfaatkan setiap teknologi yang tersedia untuk kebutuhan pendidikan dan kehidupannya.

Paharizal selaku Ketua Prodi Sosiologi Universitas Widya Mataram menyebutkan, penguasaan terhadap teknologi bagi mahasiswa merupakan suatu hal yang penting untuk mencegah keterasingan dalam sejarah peradaban manusia.

Mahasiswa perlu mempelajari dan mencari titik lemah dari teknologi yang dikuasainya untuk kemudian memberikan kesempurnaan melalui upaya kreatif penemuan yang dilakukannya.

Memanfaatkan teknologi yang sudah ada, menemukan kelemahannya dan memberikan solusi pada kelemahan yang ditemukan tersebut.

2. Dunia Kerja dan Kompetensi

Dalam berbagai pembahasan artikel tentang generasi milenial, salah satu hal yang cukup penting menjadi tantangan bagi generasi ini adalah soal kompetensi dan dunia kerja.

Hal ini sangat penting diperhatikan oleh Pinters yang masih berstatus sebagai mahasiswa tentunya.

Di satu sisi, kecenderungan sikap mahasiswa dalam dunia kerja lebih menyukai hal-hal yang bersifat fleksibel, kreatif, menantang, freelance dan lebih menyukai penghargaan potensi yang mereka miliki.

Kondisi ini seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Keputusan untuk resign sangat mudah diambil oleh generasi milenial ketika mereka merasa bahwa kondisi kerja tidak nyaman, tidak mengakomodasi potensi dan kreativitas yang dimiliki.

Padahal di satu sisi, kompetisi dan kompetensi di dunia kerja semakin meningkat. Dalam hal ini, mahasiswa milenial perlu melakukan hal-hal berikut:

  • Meningkatkan skill bakat kekinian yang dibutuhkan seperti penguasaan teknologi, kemampuan berbahasa, dan sejenisnya.
  • Meningkatkan relasi untuk mencari peluang kerja yang lebih mengakomodasi potensi yang dimiliki. Menemukan lowongan kerja di dunia maya sangat mungkin dilakukan oleh generasi milenial.
  • Meningkatkan kompetensi pribadi melalui pendidikan yang berkualitas baik pendidikan formal maupun nonformal. Kompetensi inilah yang akan jadi nilai plus di sebuah perusahaan.
  • Upaya kolaborasi secara personal perlu dibangun dalam diri generasi milenial sebagai karakter kecakapan abad 21. Kolaborasi akan memunculkan potensi peluang yang lebih cepat dan lebih besar.

Berbagai peran dan tantangan di atas mengarah pada satu kesimpulan bahwa sebagai mahasiswa generasi milenial, meningkatkan kualitas pendidikan dan potensi pribadi menjadi hal penting yang dilakukan sebagai tuntutan zaman.

Berusaha mencapai pendidikan yang tinggi dan berkualitas perlu Pinters upayakan sejak dini. Bagaimana jika memiliki kendala finansial yang serius dalam hal ini? Tak perlu khawatir, Pinters bisa bermitra dengan Pintek.

Sebuah lembaga pemberi pinjaman dana pendidikan dengan produk yang menguntungkan.

Pintek berkomitmen mendukung kualitas pendidikan generasi milenial Indonesia yang lebih berdaya saing bukan hanya di level nasional tetapi hingga internasional. Biaya bukanlah kendala serius, yang jadi kendala utamanya hanyalah apakah Pinters mau atau tidak.

Tantangan generasi milenial semakin kompleks, maka sudah saatnya Pinters maju di bidang pendidikan. Raih pendidikan yang lebih baik untuk merubah dunia dan peradaban.

Bagikan artikel ini apabila bermanfaat