Bisnis

Tips Sukses UKM Pendidikan, Raup Omzet Rp 5 Miliar Dalam 2 Tahun!

Merintis bisnis mulai dari nol hingga membuatnya terus berkembang dan sukses tentunya bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Maka, tidak heran jika tips sukses berbisnis pun menjadi salah satu hal yang seringkali membuat penasaran para pelaku usaha.

Selain dapat menjadi bekal untuk mengembangkan bisnis yang sedang dijalankan, mendengarkan tips dan cerita inspiratif dari orang-orang sukses juga tidak bisa dipungkiri mampu memberikan motivasi dan semangat bagi banyak orang yang sedang berjuang menggapai kesuksesan.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, di mana melemahnya kondisi perekonomian masyarakat membuat sejumlah pelaku usaha harus memutar otak dan bahkan beralih ke sektor bisnis pendidikan agar usahanya terus berjalan lancar dan sukses.

Sebab, bisnis pendidikan dinilai sebagai ladang usaha menjanjikan untuk menghasilkan banyak pundi-pundi rupiah karena pendidikan akan terus dibutuhkan oleh setiap orang sampai kapan pun.

Baca Juga: Cerita Inspiratif UKM Pendidikan Sukses Raup Omzet Hingga Rp 8 Miliar!

Kondisi ini salah satunya dialami oleh Yahto Dwi Husodo selaku pemilik PT Ambali,  UKM pendidikan di Indonesia yang sukses mengembangkan bisnisnya hingga meraup omzet miliaran rupiah di tengah kondisi pandemi.

“Saat banyak pebisnis yang mengalami kendala di masa pandemi, bisnis saya justru semakin berkembang karena sekolah tetap membutuhkan produk atau jasa untuk mendukung pembelajaran. Omzet saya bahkan mengalami peningkatan drastis hingga mencapai lebih dari Rp 5 miliar,” ujar Yahto.

Kepada tim Pintek, Yahto mengungkapkan bahwa sebelum terjun ke dunia bisnis pendidikan ia sempat bekerja di perusahaan IT lokal brand yaitu Axioo, tetapi khusus menghandle Gyra untuk project dan korporat pada tahun 2009.

Kemudian, berbekal pengetahuan yang didapatnya saat terjun ke project pendidikan pada tahun 2011, Yahto pun memutuskan resign pada tahun 2015 dan memulai bisnisnya sendiri dengan mengakuisisi PT Ambali yang awalnya merupakan perusahaan temannya.

Produk yang paling laris manis di pasaran

produk pendidikan yang laris di pasaran

Agar bisnis yang dijalankannya tersebut dapat terus berkembang bahkan di kondisi pandemi sekalipun, Yahto mengaku harus melakukan berbagai strategi agar produknya laku di pasaran.

Salah satunya yaitu mencoba berjualan alat prokes seperti masker, face shield, dan lainnya ke sekolah-sekolah dengan harga miring, sembari mempromosikan produk-produk jualan lainnya.

Selain itu, ia juga berusaha mengedukasi pihak sekolah untuk melakukan transaksi di SIPLah menggunakan dana BOS yang diberikan oleh Pemerintah.

“Saya fokus menjual produk pendidikan seperti buku, alat tulis hingga media pembelajaran elektronik yaitu laptop, komputer dan lain-lain. Pada tahun 2020 saat Covid, saya mencoba berjualan produk yang berhubungan untuk Covid di Lampung sembari mengedukasi kepala sekolah agar melakukan transaksi di SIPLah,” ungkap Yahto.

Sementara itu, produk-produk media pembelajaran elektronik seperti laptop, komputer, router dan lainnya dinilai Yahto sebagai produk jualan andalannya karena dapat memberikan keuntungan lebih besar, serta kebutuhannya yang terus meningkat selama pandemi.

Baca Juga: 5 Laptop untuk Pelajar Terbaik 2021, Peluang Bisnis Baru Bagi UKM!

Berkat strategi dan usahanya dalam mengedukasi pihak sekolah terkait penggunaan dana BOS dan sistem transaksi elektronik SIPLah, penjualan produk-produk kebutuhan sekolah PT Ambali pun meningkat drastis dan bisnisnya berkembang pesat.

Hal itu terbukti dari nominal omzet yang berhasil diperoleh PT Ambali, di mana pada awal tahun 2015 hingga 2019 nominalnya cukup kecil kemudian saat terjun ke SIPLah pada tahun 2020 hingga sekarang, sudah menyentuh angka Rp 5 miliar hanya dalam kurun waktu 2 tahun saja.

“Awal tahun 2015 sampai 2019 dapat omset kecil-kecil. Namun, ketika mulai terjun ke SIPLah pada tahun 2020 sampai 2021, perusahaan mendapatkan omzet signifikan. Untuk sekelas perusahaan kecil, omzetnya sudah menyentuh angka Rp 5 miliar dalam kurun waktu 2 tahun,” jelas Yahto kepada tim Pintek.

Tantangan selama menjalankan bisnis pendidikan

Meskipun mengaku bahwa bisnisnya tidak mengalami kendala selama pandemi dan justru berkembang pesat karena berkecimpung di sektor pendidikan, tetapi Yahto tidak memungkiri bahwa ada beberapa tantangan yang harus dihadapinya selama menjalankan bisnis di sektor pendidikan.

1. Pendanaan

tantangan menjalankan bisnis

Salah satu tantangan yang dirasakan oleh Yahto selama menjalankan bisnis pendidikan melalui PT Ambali yaitu terkait permasalahan dana.

Menurut pengakuannya, ketika bisnisnya ingin mencoba untuk mengembangkan target pasar yang lebih besar, tapi sayangnya impiannya tersebut terhambat oleh permasalahan modal. Sehingga, ia pun seringkali menggaet partner proyek untuk bekerja sama memenuhi segala kebutuhan yang diperlukan sekolah.

Akan tetapi, karena modal yang dibutuhkan untuk bermain di market besar umumnya sangatlah tinggi, partner proyek yang bekerja sama dengannya pun masih belum berani untuk memenuhi permintaan tersebut.

“Tantangannya dalam bisnis, mencoba mengembangkan market tapi kondisi partner proyek belum berani bermain di pasar besar,” ujar Yahto.

Hingga pada akhirnya, Yahto pun memutuskan untuk mengajukan pendanaan ke Pintek agar dapat bermain di pasar yang lebih besar dan kini terbukti bisnisnya tersebut semakin berkembang pesat dan sukses.

“Pintek sangat membantu masalah pembiayaan yang saya alami. Limit pinjamannya besar, proses pengajuannya mudah dan pencairannya sangat cepat. Terima kasih Pintek karena sudah mewujudkan impian saya sebagai pebisnis,” tambah Yahto.

Yahto juga mengungkapkan kalau di tahun 2022, ia memiliki target Rp 18 miliar hanya dari menjual buku saja. Selain itu, pria yang akrab dipanggil Dodo ini hanya fokus mencari customer dan masalah dana ia mengandalkan di Pintek.

2. Mengedukasi pihak sekolah terkait SIPLah

tantangan menjalankan bisnis pendidikan

Meskipun pada akhirnya Yahto berani terjun ke market yang lebih besar dengan bergabung sebagai penyedia di SIPLah, tetapi ada usaha yang harus ia tempuh agar bisnisnya tersebut dapat berkembang pesat.

Seperti yang sudah dibahas di atas, Yahto bahkan harus turun tangan langsung mengunjungi sekolah-sekolah untuk menawarkan produk jualannya sembari mengedukasi kepala sekolah akan pentingnya SIPLah.

Yahto memberikan edukasi kepada pihak sekolah untuk tidak menyia-nyiakan dana BOS yang diberikan Pemerintah dengan cara melakukan transaksi pengadaan barang dan jasa kebutuhan sekolah melalui platform SIPLah.

Usahanya pun tidak mengkhianati hasil, karena semenjak saat itu penjualannya di SIPLah langsung bombastis.

Baca Juga: Apa itu SIPLah, Tujuan Serta Keuntungan untuk Sekolah dan UKM Pendidikan!

Tips sukses menjalankan bisnis pendidikan

tips sukses menjalankan bisnis pendidikan

 

Melihat perjalanan Yahto merintis bisnis PT Ambali hingga berhasil berkembang pesat dan meraup omzet miliaran dalam waktu cukup singkat, tentu membuat kita bertanya-tanya mengenai tips sukses Yahto dalam menjalankan bisnis pendidikannya tersebut.

Menurutnya, ketika pelaku usaha menjalankan bisnis dengan memanfaatkan dana BOS yang disalurkan ke sekolah-sekolah, maka memahami petunjuk  pelaksanaan dan petunjuk teknis (juklak dan juknis) adalah salah satu strategi yang harus dikuasai.

Karena dengan begitu, pelaku usaha jadi tahu apa saja barang dan jasa yang dibutuhkan oleh sekolah untuk mendukung kegiatan pembelajaran sehingga itu menjadi peluang bagi para pelaku usaha masuk ke dalamnya.

“Strategi menjalankan bisnis yang memanfaatkan dana BOS dari sekolah yaitu dengan memahami juklak dan juknis. Saat memahami dan mengetahui bahwa dana BOS digunakan sekolah untuk Pengadaan Barang/Jasa (PBJ), maka pelaku usaha dapat mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah,” tambah Yahto.

Selain itu, Yahto juga berpesan bahwa para pelaku bisnis pendidikan tidak perlu khawatir soal permodalan karena ada Pintek, perusahaan fintech yang terpercaya.

“Dengan adanya Pintek, ada lembaga keuangan yang bagus dan ayo sama-sama memaksimalkan dengan tidak perlu khawatir dengan permodalan. Urusan dana serahkan ke Pintek,” pesan Yahto kepada teman-teman vendor bisnis pendidikan.

Baca Juga: Cara Daftar UKM Online, Strategi Tepat untuk Meningkatkan Penjualan!

Pintek, tips sukses solusi pendanaan UKM pendidikan

pintek solusi pendanaan ukm pendidikan

Seperti yang disampaikan Yahto, Pintek memang menjadi solusi pendanaan bagi para UKM pendidikan yang membutuhkan dana untuk memperlancar bisnis.

Pintek adalah perusahaan fintech yang memiliki misi mendorong transformasi pendidikan di Indonesia melalui layanan keuangan.

Seperti halnya dengan Pak Yahto, para pelaku usaha di bidang pendidikan yang terjun sebagai penjual di SIPLah, LKPP, LPSE dan e-Katalog, dapat mengajukan pinjaman PO/Invoice SIPLah untuk mengembangkan skala bisnisnya.

Melalui produk pendanaan tersebut, vendor pendidikan bisa mendapatkan pendanaan hingga miliaran rupiah dengan bunga efektif mulai dari 1,5 persen hingga 2,5 persen, tergantung credit scoring.

Segera kunjungi Pintek.id untuk mengetahui informasi lebih lengkap terkait pendanaan di Pintek atau melakukan diskusi dengan tim Pintek melalui TanyaPintek maupun menghubungi Pintek di nomor 021-50884607.

Kamu juga bisa mendapatkan informasi menarik seputar Pintek dengan mengunjungi laman Instagram Pintek di @pintek.id dan @pintek.biz.

Artikel Terkait

Back to top button